Menuju Gelar Sarjana, 88 Mahasiswa Universitas Islam Depok Jalani Sidang Munaqosah: Uji Keilmuan, Integritas, dan Kesiapan Mengabdi

22     26 October 2026     Pusdatin UID    

DEPOK, 24 Oktober 2026 – Suasana penuh semangat dan harapan mewarnai pelaksanaan Sidang Skripsi (Munaqosah) Universitas Islam Depok (UID) yang diselenggarakan pada Sabtu, 24 Oktober 2026. Sebanyak 88 mahasiswa mengikuti salah satu tahapan akademik terpenting dalam perjalanan pendidikan tinggi mereka sebagai langkah menuju gelar sarjana.

 

Peserta munaqosah terdiri atas 76 mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI), Fakultas Tarbiyah, dan 12 mahasiswa Program Studi Perbankan Syariah (PS), Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI)

 

Kegiatan diawali dengan pembukaan yang berlangsung di Aula Sayyidah Rifqoh Universitas Islam Depok, sebelum para peserta melanjutkan proses ujian skripsi di hadapan majelis penguji.

 

### Munaqosah Bukan Sekadar Ujian, tetapi Pembuktian Integritas Keilmuan

 

Dalam sambutannya pada acara pembukaan, Wakil Rektor I Universitas Islam Depok, Dr. Acep Muwahid M, M.M., menyampaikan pesan penting mengenai makna sidang munaqosah sebagai bagian dari pembentukan kualitas akademik dan karakter lulusan perguruan tinggi.

 

Sidang munaqosah bukan sekadar tahapan akhir untuk memperoleh gelar sarjana, melainkan momentum pembuktian atas proses panjang perjuangan akademik mahasiswa. Gelar akademik harus mencerminkan kedalaman ilmu, kematangan berpikir, kejujuran intelektual, serta tanggung jawab moral. Kami berharap lulusan Universitas Islam Depok tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga memiliki akhlak mulia dan mampu menghadirkan kebermanfaatan nyata bagi masyarakat, ungkapnya.

 

Lebih lanjut, beliau menekankan pentingnya menjadikan ilmu pengetahuan sebagai sarana pengabdian dan kontribusi positif bagi kehidupan masyarakat.

 

Menurutnya, keberhasilan pendidikan tinggi tidak hanya diukur dari jumlah lulusan yang dihasilkan, tetapi juga dari sejauh mana para alumni mampu mengimplementasikan keilmuannya secara profesional, berintegritas, dan berlandaskan nilai-nilai Islam.

 

Menguji Kemampuan Akademik dan Kematangan Berpikir Kritis

 

Pelaksanaan sidang munaqosah menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mempertanggungjawabkan hasil penelitian yang telah disusun melalui proses bimbingan akademik.

 

Dalam proses pengujian, mahasiswa dituntut mampu menjelaskan latar belakang penelitian, landasan teori, metodologi, hasil penelitian, hingga kesimpulan secara sistematis, argumentatif, dan ilmiah.

 

Bagi mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam, munaqosah menjadi bagian penting dalam mempersiapkan calon sarjana pendidikan yang memiliki kompetensi akademik, pedagogis, serta pemahaman nilai-nilai keislaman.

 

Sementara itu, bagi mahasiswa Program Studi Perbankan Syariah, kegiatan ini merupakan sarana untuk menunjukkan penguasaan keilmuan di bidang ekonomi dan keuangan syariah, sekaligus kesiapan menghadapi perkembangan dunia profesional yang semakin dinamis.

 

Melalui proses pengujian tersebut, Universitas Islam Depok terus berupaya menjaga standar mutu akademik dan memastikan bahwa setiap karya ilmiah mahasiswa memiliki dasar keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan.

 

Melahirkan Sarjana yang Berilmu, Berakhlak, dan Berdampak

 

Pelaksanaan munaqosah lintas program studi ini juga mencerminkan komitmen Universitas Islam Depok dalam membangun budaya akademik yang berkualitas, kritis, dan berorientasi pada pengembangan ilmu pengetahuan.

 

Lebih dari sekadar agenda akademik, munaqosah menjadi simbol perjalanan panjang mahasiswa yang telah melewati berbagai proses pembelajaran, penelitian, bimbingan, dan penyusunan karya ilmiah.

 

Momentum ini diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran bahwa keberhasilan meraih gelar sarjana bukanlah akhir dari proses belajar, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk mengamalkan ilmu di tengah masyarakat.

 

Melalui penyelenggaraan sidang munaqosah ini, *Universitas Islam Depok meneguhkan komitmennya untuk melahirkan generasi sarjana yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kokoh dalam nilai spiritual, tangguh menghadapi tantangan zaman, serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi agama, bangsa, dan negara.

Sebab, hakikat keberhasilan seorang sarjana bukan semata-mata terletak pada gelar yang disandang, melainkan pada ilmu yang diamalkan dan manfaat yang diberikan kepada sesama.